By Sasang Priyo Sanyoto  Article Published 19 February 2017
 


Sejarah AAL

Pada tahun 1951, ALRI atau Angkatan Laut Republik Indonesia membuka Institut Angkatan Laut (IAL). Pada Angkatan I, Institut Angkatan Laut (IAL) membuka 3 korps atau jurusan yakni korps Teknik Mesin, korps Navigasi danjuga korps Administrasi. Lama pendidikan yang harus ditempuh adalah tiga tahun yang dibagi atas 2 tahun teori dan 1 tahun praktek. Untuk pelajaran teori, kebanyakan diberikan oleh beberapa anggota Misi Militer Belanda (MMB) yang kerap memakai bahasa Belanda. Lalu untuk penggemblengan fisik dan mental sendiri diberikan oleh pihak ALRI. 1 tahun selanjutnya yakni pada penerimaan Angkatan II, korps ditambah 2 lagi yakni  korps Komando (KKO) dan juga korps Elektronik

Selanjutnya pada tanggal 13-12-1956, IAL berubah nama menjadi Akademi Angkatan Laut atau AAL yang masih dengan sistem pendidikan yang sama yakni 3tahun. Lalu pada tahun 1961, sistem pendidikan diubah lagi menjadi 4 tahun sebab sistem pendidikan selama tiga tahun dianggap terlalu singkat. Pelajaran yang diberikan dalam AAL menjadi 73% untuk praktek/latihan dan teori kemiliteran/keangkatan lautan dan 27% untuk pengetahuan akademik (Iptek). Dan sistem 5 korps yang sudah ada dilebur lag menjadi 3 korps, yakni korps Pelaut (penggabungan dari Teknik, Pelaut dan juga Elektro), korps Administrasi dan korps Komando/Marinir. Tiga korps tersebut disebut dengan sistem laut.

Mendekati akhir dari periode sistem laut 3 korps disempurnakan kembali menjadi sistem jurusan terbatas, yang hanya terdiri dari korps Marinir dan Pelaut. Sistem tersbeut hanya menghasilkan beberapa angkatan ke XI, dan semua angkatan ke XII dan juga XIII. Namun untuk angkatan XI V dan juga XV, diubah kempali menjadi 4 korps yakni korps Teknik, Pelaut, Elektronika dan juga Marinir. Lalu pada tanggal 16-12-1965, Presiden R.I selaku Panglima ABRI tertinggi telah memutuskan, tentang peresmian dari berdirinya Lembaga Pendidikan AKADEMI BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA (AKABRI) yang berdasarkan pada Surat Keputusan No. 185/KOTI/1965. Jadi, lembaga-lembaga pendidikan militer yang ada sebelumnya, seperti AAL, AMN, AAU dan juga AAK dihapuskan.

Pada tanggal 5-10-1966, markas Komando AKABRI dibentuk di Jakarta yang tidak lain ialah badan pelaksana pusat di Departemen HANKAM. Kemudian Mayor Jenderal TNI yakni achmad Tahir, Gubernur AMN Magelang diangkat menjadi  Komandan Jenderal AKABRI untuk yang pertama. Selanjutnya, tanggal 29 -01-1967 upacara pembukaan AKABRI Tingkat I dilsenggelarakan di Magelang. Berada dalam satu bagian dengan AKABRI Bagian Darat lalu, AAL berubah menjadi AKABRI BLaut, AAU berubah menjadi AKABRI Udara da AAK berubah menjadi AKABRI Kepolisian.

Dalam hubunganya dengan usaha integrasi, aktifitas-aktifitas pendidikan utama yang memiliki sifat integrasi memperoleh perhatian yang serius meliputi: Latihan Integrasi Kadet Weda, Pendidikan Dasar Prajurit dan juga Kegiatan Pekan Olah Raga Bersama.Pada Periode ini telah berhasil menghasilkan lulusan angkatan ke XVI hingga angkatan ke XXXI. Selanjutnya pada tanggal 10-11-1984, AKABRI Laut berubah lagi menjadi Akademi TNI Angkatan Laut  atau yang disingkat dengan AAL. Dalam perkembanganya, AAL memiliki pola kurikulum 5 bulan ditambah 3 tahun ditambah 7 bulan. Beban belajar dihitung dalam SKS atau satuan kredit persemester. Dan semenjak tahun 2003, Korps Administrasi dirubah menjadi Korps Suplai. Lalu pada tahun 2008 AAL menyelenggarakan pendidikan dengan memakai pola 1 tahun di Akmil dan waktu 3 tahun di AAL. 

Tugas Pokok AAL

Akademi TNI Angkatan Laut atau AAL Adalah sebuah lembaga pendidikan pertama dengan tingkat akademi yang berada di bawah Kasal dan mempunyai tugas pokok yakni mendidik para Taruna supaya menjadi Perwira TNI AL yang mempunyai:

1) Ketaqwaan kepada Tuhan YME yang utuh, semangat patriotisme dan jiwa juang Pancasila, Sapta Marga yang dilandasi dengan doktrin Sumpah Prajurit,  Trisila TNI AL, 8 Wajib TNI, beserta memegang teguh Hree Dharma Shanty sebagai pedoman hidup.

2) Bekal ilmu pengetahuan dan juga ketrampilan profesi ketentaraan laut dalam hal penugasan awal di KRI maupunPasukan.

3) Bekal jiwa kepemimpinan  dan kemampuan manajerial 

Pendidikan yang adadi Akademi TNI Angkatan Laut atau AAL lebih diarahkan pada tercapainya visi TNI Angkatan Laut yakni mewujudkan TNI Angkatan Laut yang handal dan juga disegani. Pemecahan segala permasalahan pendidikan yang ada  di Akademi Angkatan Laut memakai pendekatan sistematik yang merangkumdelapan aspek pendidikan dan tdengan pemutakhiran sepuluh komponen pendidikan. Disampingitu, metode Pendidikan yang digunakan di Akademi TNI Angkatan Laut termaskuk metode pelatihan, pengajaran dan juga pengasuhan yang terinci dengan tujuan tujuan untuk membekali setiap taruna ilmu pengetahuan umum beserta dasar profesi sebagai seorang prajurit matra laut. Segala bentuk pelatihan di AAL bertujuan untuk membekali para taruna ketrampilan dasar profesi dan profesi khusus masing-masing korps. Pengasuhan sendiri bertujuan untuk membentuk, mengembangkan dan juga memantapkan kepribadian para taruna dan semangat juang seorang prajurit sejati.

Tradisi AAL

Penerimaan Taruna

Setelah menempuh pendidikan dasar keprajuritan yang bertempat di Magelang selama 5 bulan dengan Taruna Akademi Militer dan juga Akademi Angkatan Udara, selanjutnya para Prajurit Taruna AAL menuju kampus AAL Bumimoro di Surabaya.Sebelum taruna mengikuti pendidikan mereka harus melaksanakan latihan Prabakti. Sekitar 3 minggu mereka harus melaksanakan orientasi terhadap segala proses pendidikan yang ada di AAL sebagai bekal mereka dalam menamabah wawasan, 

Pengukuhan Ibu Asuh Akademi Angkatan Laut

Upacara pengukuhan tersebut mempunyai arti yang cukup penting, dimana Ibu Taruna AAL berperan sebagai keluarga yang sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan metode pengasuhan dalam proses pembentukan watak dan  perilaku para Taruna di Akademi Angkatan Laut.

Kehidupan sehari-hari yang akan dialami oleh para Taruna AAL memang sangat keras dan penuh dengan disiplin tinggi. Jika di rumah, sang ibu masih ada menemani mereka, dan bisa menerima keluh kesah mereka. Namun di akademi, kepada siapaka mereka mencurahkan beratnya hidup? Kehadiran sesosok ibu senantiasa dinantikan, begitu juga di Akademi. Ibu adalah tempat mengadu dari segala masalah hidup yang dihadapi. 

Wisuda Purna Wira Perwira Tinggi


Upacara Wisuda TNI AL, pada hakekatnya adala kegiatan seremonial yang sudah ditradisikan sebagai simbol dari pewarisan nilai-nilai luhur kepemimpinan TNI AL, dari generasi muda yang sudah memasuki masa purna bhakti sebagai generasi penerus. Peristiwa ini menggambarkan awal dan juga akhir proses panjang pembinaan taruna TNI AL, dan juga perjalanan karir dari seorang perwira yang aka melaksanakan dinas aktifnya. Upacara ini juga sebagai penghormatan dari semua jajaran TNI AL, yang diutarkan dengan penuh kebanggaan kepada setiap pemimpin pendahulu yang sekarang ini sudah menyelesaikan dinas aktif mereka dan mengakhiri pengabdianya secara formaldi lingkungan TNI AL. Penghormatan dan juga kebanggaan tersebut dilandasi oleh rasa terima kasih dan juga penghargaan yang tulus, terhadap segala pengabdian dan juga karya nyata para wisudawan TNI AL sebagai pemimpin yang disumbangkan tanpa pamrih untuk kemajuan TNI AL.

Upacara ini  juga kesempatan yang berharga untuk setiap perwira muda agar bisa menghayati, mendalami dan juga mempedomani nilai-nilai luhur perjuangan para purnawirawan TNI Al terdahulu yang telah mengabdi kepada negara Indonesia. Nilai-nilai luhur sangatlah penting, relevan dan juga diperlukan sebagai tonggak dasar untukmelaksanakan tugas dalam mendukung segala bentuk perjuangan bangsa guna membangun masa depan bangsa yang tentunya lebih baik.

Sistem Pendidikan

a. Metode Among Asuh

AAL menggunakan metode pembelajaran dengan memakai pendekatan among asuh yakni dengan prinsip “ Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso,Tut Wuri handayani”

b. Tri Tunggal Pusat

Selain itu, pendidikan di AAL memakai wahana tri tunggal pusat yang meliputi keluarga, masyarakat dan juga ksatrian. Ketiga hal tersebu saling memberikan kekuatan agar pendidikan di AAL bisa tercapai dengan lebih optimal.

c. Sistem SKS

Pendidikan di AAL dilaksankan dengan sistem Satuan Kredit Semester atau SKS.

1) Pengertian

Sistem kredit merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang mana beban studi, beban penyelenggaraan pendidikan dan beban kerja tenaga pengajar, dinyatakan dalam Satuan Kredit. Semester merupakan satuan waktu yang menyatakan lamanya sebuah pendidikan disenggelarakan. Satu semester merupakan satuan waktu aktifitas yang terdiri dari enam belas minggu kuliah ataupun aktifitas terjadwal lainnya termasuk 2 minggu aktifitas penilaian. Jadi SKS atau Satuan Kredit Semester merupakan satuan yang dipakai untuk menyatakan besar dari beban studi kadet, pengakuan terhadap keberhasilan usaha Kadet, pengakuan atas keberhasilan usaha kumulatif untuk suatu program tertentu dan besarnya usaha untuk melaksanakan pendidikan untuk tenaga pengajar.

2) Ciri-ciri Sistem Satuan Kredit Semester (SKS)

a) Dalam Sistem SKS, setiap mata kuliah akan diberi nilai kredit.

b) Jumlah nilai kredit untuk setiap mata kuliah ditentukan berdasar pada besarnya usaha untuk menyelesaikan segala tugas-tugas yang diberikan dalam perkuliahan, kerja lapangan, praktikum, ataupun tugas-tugas yang lainya. Dengan begitu besar kecilnya suatu bobot SKS sama sekali tidak mencerminkan seberapa penting a mata kuliah yang bersangkutan, namun mencerminkan luasnya ruang lingkup, lebih  mendalamnya bahan yang harus dibahas dan banyaknya waktu yang diperlukan untuk bisa menguasainya.


3) Nilai Kredit

Nilai kredit merupakan besar beban studi yang harus ditanggung oleh Kadet dalam suatu semester ataupun beban studi untuk  bisa menyelesaikan pendidikan. Nilai kredit yang harus ditanggungoleh Kadet direpresentasikan dalam nilai kredit di suatu mata kuliah yang ditentukan berdasarkan atas beban aktifitas yang terdiri dari keseluruhan 3 macam kegiatan perminggu berikut ini:


a) Untuk Kadet

Satu SKS terdiri dari:

(1) 50 menit tatap muka dengan tenaga pengajar secara terjadwal, contohnya dalam bentuk kuliah;

(2) 60 menit aktifitas akademik secara terstruktur, yakni aktifitas studi yang tak terjadwal, namun direncanakan oleh tenaga pengajar, contohnya pekerjaan rumah ataupun menyelesaikan soal-soal tertentu.

(3) 60 menit acara aktifitas akademik mandiri, yakni kegiatan yang haruslah  dikerjakan Kadet dengan mandiri untuk bisa mendalami, menyiapkan ataupu menyelesaikan tugas-tugas akademik lain, contohnya membaca buku acuan.

b) Untuk Tenaga Pengajar

Satu SKS terdiri dari:

(1) 50 menit tatap muka secara terjadwal dengan para Kadet;

(2) 60 menit perencanaan dan juga evaluasi aktifitas akademik terstruktur;

(3) 60 menit untuk pengembangan materi perkuliahan.

4) Beban Studi Kadet 1 Semester

Beban studi Kadet dalam waktu 1semester ditentukan berdasarkan rata-rata waktu kerja dalam sehari dan juga kemampuan setiap individu. Seorang Kadet dituntut untuk bekerja lebih lama, karena tak ia tak hanya bekerja pada siang hari saja namun juga di waktu malam hari. Saat siang hari, biasanya Kadet bisa belajar antara 7 hingga 9 jam dan ketika malam hari mereka bisa belajara 2 jam, sehingga bisa  disimpulkan dala satu semester Kadet bisa menempuh 20 hingga 22 SKS. Dalam penentuan beban studi untuk 1 semester, harus diperhatikan juga kemampuan Kadet. Biasanya seorang Kadet yang baru saja masuk, bisa memikul beban studi diantara 20 hinngga 22 SKS.


Kualifikasi Lulusan AAL

  1. a. Kualifikasi Umum. 

Lulusan AAL merupakan perwira pejuang sapta marga yang mempunyai kemampuan teknik dasar profesi matra laut dan ilmu pengetahuan pertahanan negara supaya bisa mengembangkan kariernya selama pengabdiannya.

b.         Kualifikasi Khusus (harus disesuaikan dengan setiap korps)

1)         Korps Pelaut.

a)         Mempunyai kemampuan dasar sebagai Perwira Korps Pelaut yang sesuai dengan perannya saat penugasan di lapangan.

b)          Memahami tugas-tugas Perwira Divisi Navigasi, Komunikasi, Senjata Atas Air, Senjata Bawah Air dan Pusat Informasi Tempur pada KRI tipe Korvet klas Sigma. 

c)       Bisa melaksanakan tugas-tugas sebagai Perwira Jaga Laut pada KRI tipe Korvet klas Sigma.

d)         Mempunyai kemampuan ilmu pertahanan dalam bidang nautika, teknik manajemen, teknik kesenjataan aspek laut, hukum, kepemimpinan dan komunikasi sosial untuk mengembangkan karier sebagai seorang kader pemimpin.

2)         Korps Teknik.

a)         Mempunyai kemampuan dasar Perwira yang sesuai dengan perannya dalam penugasan Korps Teknik.

b)         Bisa melaksanakan tugas profesi Korps di lapangan menjadi Asisten Kepala Divisi Mesin di KRI tipe Korvet klas Sigma.

c)        Memiliki kemampuan dasar profesi Perwira Korps Teknik sebagai pendukung administrasi logistik

d)         Bisa melaksanakan tugas profesi Korps di lapangan yakni sebagai pelaksana perbaikan dan juga penyelamatan kapal.

e)         Mempunyai potensi kemampuan ilmu pertahanan dalam bidang teknik mesin perkapalan perang untuk mengembangkan karier sebagai seorang kader pemimpin. 

3)         Korps Elektronika.

a)         Mempunyai kemampuan dasar Perwira Korps Elektronika yang sesuai dengan  bidang penugasan dalam Korps dan juga pendukung administrasi, personel dan logistik.

b)         Bisa melaksanakan tugas di lapangan sebagai Asisten Perwira Divisi Elektronika Kesenjataan ataupun sebagai Asisten Perwira Divisi Elektronika, Navigasi dan  jugaKomunikasi di KRI tipe Korvet klas Sigma dan juga perencanaan Sistem Pemeliharaan Terencana.

c)         Mempunyai potensi kemampuan ilmu pertahanan dalam bidang senjata dan juga elektronika untuk mengembangkan karier sebagai seorang kader pemimpin.

4)         Korps Suplai.

a)         Mempunyai kemampuan dasar Perwira Korps Suplai yang sesuai bidang penugasan Korps Suplai.

b)         Bisa melaksanakan pengurusan administrasi keuangan dan membuat pertanggungjawabannya.

c)         Bisa melaksanakan pengurusan dan juga administrasi bekal material dan bekal personel yang sesuai prosedur pembekalan yang ada di kapal dan juga  di darat.

d)         Bisa melaksanakan aktoifitas administrasi umum (surat menyurat dan juga administrasi perkantoran) yang sesuai standar di lingkungan TNI.

e)         Memiliki bekal ilmu pertahanan bidang perbekalan sistem senjata untuk pengembangan karier sebagai kader pemimpin.

f)          Memahami dan bisa melaksanakan tugas sebagai Asisten Kepala Departemen Logistik di KRI tipe Korvet klas Sigma

5)         Korps Marinir.

a)         Bisa melaksanakan tugas menjadi Komandan Peleton Infanteri.

b)         Meempunyai kemampuan untu menembak kualifikasi senapan laras panjang dan juga pistol.

c)         Mengetahui tugas lapangan Komandan Kompi.

d)         Mempunyai kemampuan sebagai pasukan dengan kualifikasi terjun para dasar dan dasar komando.

e)         Mempunya pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan teknologi persenjataan dan juga persenjataan bantuan infanteri.

f)          Mempunyai bekal ilmu pertahanan dala bidang peperangan darat untuk mengembangkan karier sebagai seorang kader pemimpin. 

 

Penulis : Agung

Sumber: 

http://www.antarafoto.com/foto-cerita/v1452258025/menilik-kawah-candradimuka-taruna-tni-al

 



Related Article