By Sasang Priyo Sanyoto  Article Published 21 December 2016
 
 Antara Sekolah Umum dan Kedinasan

 

Baik sekolah umum maupun sekolah kedinasan menggunakan sabuk sebagai kelengkapan seragamnya. Namun, tidak semua menggunakan model yang sama. Seperti yang telah kita ketahui bersama ada banyak jenis sabuk yang ada di pasaran.  Mulai dari jenis sabuk biasa, sabuk berlogo hingga sabuk dengan kepala dari bahan besi atau kuningan yang biasa disebut dengan timangan. 

 

Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena penggunaan seragam seperti sabuk atau ikat pinggang juga sudah di atur dalam peraturan masing-masing sekolah. Biasanya, pedoman dan petunjuk praktis penggunaan seragam dan kelengkapannya akan sama dari tahun ke tahun. Bila tahun lalu menggunakan sabuk kuningan, maka tahun ini juga akan menggunakan sabuk kuningan. Selain itu, seragam dan kelengkapannya memang sudah seperti ciri khas dan trandmark bagi masing-masing institusi pendidikan.

Webbing

 

Bukan seperti sabuk yang di kenakan oleh sekolah biasa, sabuk yang di gunakan di sekolah kedinasan menggunakan gesper yang berbeda baik model, bentuk, dan jenis bahan yang di gunakannya. Bila sekolah umum biasa menggunakan sabuk dengan bahan pvc di talinya, maka di sabuk sekolah kedinasan menggunakan tali berbahan webing sebagai komponen utamanya. Webing ini di buat dari tenunan serat nylon atau polyster menggunakan mesin tenun khusus sehingga rajutan bisa kuat dan tidak mudah terurai.  

 

Meskipun berbeda logonya dengan yang biasanya di pakai untuk ikat pinggang kepolisian atau sabuk TNI, akan tetapi ketebalan webingnya juga akan di sesuaikan dengan spesifikasi yang di inginkan oleh permintaan. Biasanya, ketebalan 2.8 mm menjadi standar yang sudah baku baik untuk ikat pinggang kedinasan, kemiliteran hingga sabuk sekolah. Sedangkan lebarnya yaitu 3.2 cm atau 32 mm.  

 

Namun, terkadang untuk mengatasi tingginya harga sabuk dengan spesifikasi tersebut, maka hal yang bisa di lakukan adalah menurunkan spek teknisnya hingga harganya bisa sesuai dengan anggaran yang sudah ada. Terkadang, anggaran untuk sekolah kedinasan yang terbatas membuat spesifikasi teknisnya di turunkan untuk menjadikan harga ikat pinggang menjadi lebih terjangkau.

Timangan Kepala Sabuk

 

Kepala sabuknya pun juga di buat dari besi atau kuningan yang di bentuk sedemikian rupa lalu akan di cetak logo di bagian atasnya.  Proses pencetakan ini juga menggunakan mesin press khusus sehingga hasil cetakan bisa lebih bagus dan presisi. Sebelumnya, kepala sabuk terbuat dari plat yang utuh dan di potong dengan mesin plong. 

 

Sabuk Sekolah Kuningan Untuk Ikat Pinggang Kedinasan Produksi Refreshop

 

Cetakan yang sudah di buat dan di sesuaikan sebelumnya akan menjadi ukuran yang baku dan di gunakan untuk mencetak. Setelah terpotong, lembaran-lembaran plat tersebut akan di tekuk dan di rangkai sehingga menjadi sebuah sabuk yang sudah jadi. 

 

Untuk beberapa model seperti sabuk slorok, penggunaan logam yang berfungsi sebagai pengunci juga di pakai dari bahan logam. Hal inilah yang membuat gesper model slorok lebih mahal dari pada yang model kupu-kupu. 

Timangan Besi

 

Kelebihan dari timangan dari bahan besi adalah lebih murah. Selain itu, bahan ini juga mempunyai berat yang lebih ringan dari pada bahan plat kuningan. Meskipun demikian, ada banyak kelemahan dari timangan yang terbuat dari baha besi ini. Salah satunya adalah mudahnya kepala sabuk berkarat yang di akibatkan oleh proses oksidasi. Selain itu, kepala ikat pinggang besi juga mudah berkarat bila terkena air. Meskipun tidak terkena air pun, kepala dari besi juga lama kelamaan akan bisa berkarat. 

 

Dalam jangka waktu pemakaian, warna kuning pada logam besi juga bisa memudar. Hal ini bisa saja terjadi karena proses pewarnaan pada logam besi yang tidak alami. Sangat berbeda dengan bahan kuningan yang bila tidak di poles maka kepala lama kelamaan akan memudar dan masih bisa mengkilap lagi bila di poles dengan cairan pemoles logam. Sebenarnya, untuk sekolah kedinasan bahan logam besi ini tidak di rekomendasikan karena tidak tahan lama dan mudah berubah warnanya.

 

Selain itu, ikat pinggang sekolah kedinasan dari besi juga tidak tahan benturan dan goresan karena pelapisnya memang buatan manusia. Bila tergores atau terjatuh dan terbentur, maka warna sabuk sekolah besi masih bisa tergores dan warnanya bisa mengelupas. Biasanya, dari goresan tersebut akan nantinya muncul karat yang semakin lama semakin melebar. Tentu saja, bila di biarkan sabuk akan berkarat seluruhnya.

Timangan Kuningan

 

Selain besi logam yang di gunakan sebagai bahan utama timangan adalah bahan kuningan. Bahan ini mempunyai sifat yang tidak bisa berkarat yang sangat berbeda dengan bahan besi. Bahan ini memang lebih mahal bila di bandingkan dengan besi. Namun, sabuk kuningan jauh lebih awet karena tidak bisa berkarat dan warnanya akan tetap bisa kembali mengkilap apabila terus di rawat oleh penggunanya. Perawatan dari sabuk kuningan sebenarnya cukup mudah. Hanya dengan mengolesinya dengan cairan pemoles logam lalu mengelapnya secara terus menerus, logam akan kembali mengkilap. Tentu saja, pemolesan ini tidak bisa dilakukan untuk sabuk yang terbuat dari bahan besi.

 

Bahan ini juga di kenal lebih tahan goresan dan benturan. Bila terkena goresan, maka warna dari sabuk kuningan tidak akan berubah. Selain itu, bila terbentur ata terjatuh warnanya juga tidak berubah atau mengelupas. Hal ini juga berbeda bila bahan sabuk dari besi. Bila tergores, lapisan kuning pada besi masih bisa tergores.

 

Karena banyaknya kelebihan dari bahan kuningan, maka kebanyakan untuk sabuk yang di gunakan sebagai jatah instansi kemiliteran seperti TNI atau kedinasan seperti POLRI, dan lain-lain menggunakan bahan ini. 

Panjang Dan Ukuran Sabuk

 

Setelah webing jadi, maka proses selanjutnya dalam pembuatan sabuk kedinasan adalah pemasangan ujungnya. Ujung sabuk di apit oleh logam yang juga bisa menggunakan besi ataupun kuningan. Pemotongan webing juga tidak bisa sembarangan. Semua akan di potong sesuai dengan pesanan. Biasanya ada beberapa ukuran seperti ukuran 38, 39, 42 dan lain sebagainya. Selain itu, masing-masing ukuran akan mempunyai panjang webing yang berbeda antara satu ukuran dengan ukuran yang lainnya. Misalnya, untuk ukuran yang paling besar biasanya panjangnya mencapai 115 cm dan yang paling pendek mempunyai panjang 100cm. Webing yang barusan di potong harus di rapikan dengan menggunakan alat yang berbahan dasar elemen pemanas sehingga potongan tampak rapi. Selain itu, pemanasan ini juga bertujuan agar serat benang webing tidak mudah terurai dan tetap rapi sesuai dengan model asalnya.

Perakitan

 

Kepala sabuk yang sudah di poles dan di lapisi kemudian di rakit dengan webing yang sudah di rapikan. Proses ini merupakan proses akhir dan bisa di katakan sabuk sudah jadi dan sudah bisa di gunakan oleh penggunanya. Meskipun demikian, proses ini merupakan salah satu bagian yang penting karena di sini juga di lakukan pemeriksaan dan quality control terhadap sabuk yang sudah di buat. Bila sabuk cacat produksi atau mungkin ada yang kurang sesuai dengan harapan, maka sabuk akan di afkir atau di perbaiki kembali. Mana yang kurang sempurna akan di sempurnakan sehingga sabuk menjadi lolos seleksi.

Pengemasan

 

Sabuk yang sudah di rakit akan di masukkan ke dalam plastik sesuai dengan ukuran sabuk. Setelah plastik di masuki sabuk, maka plastik akan di pres atau di staples agar rapi. Kemudian, sabuk dalam plastik tersebut akan di masukkan ke dalam kardus yang sudah di cetak logo instansi pemesannya. Meskipun demikian, tidak semua sabuk yang di produksi akan di masukan ke dalam kemasan seperti ini. Hal tersbut terjadi karena untuk penambahan kemasan biasanya terdapat biaya tambahan sekitar 1000 rupiah per kemasan. Bila pemesan bersedia menambah biaya tersebut, maka produsen akan mengemasnya. Walaupun demikian, biasanya biaya pengemasan ini juga nanti tergantung negosiasi antara pemesan dengan produsen apakah termasuk ke dalam bonus atau tidak. (sp)

 


Related Article