By Admin  Article Published 19 January 2017
 

Pengertian 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara atau yang disingkat dengan TNI Angkatan Udara atau TNI-AU merupakan salah satu cabang angkatan perang dan menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertanggung jawab dalam pertahanan negara Republik Indonesia di area udara.

 

Garuda Pada Logo Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

 

Pada awalnya TNI Angkatan Udara adalah bagian dari TNI Angkatan Darat yang dulunya bernama Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan. TNI Angkatan Udara mulai berdiri sendiri pada tanggal 9 April 1946 bersamaan dengan terbentuknya Tentara Republik Indonesia (TRI Angkatan Udara) sesuai Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD Tahun 1946.

 

TNI Angkatan Udara dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) yang merupakan pemimpin tertinggi di Markas Besar Angkatan Udara (MABESAU). Saat ini KASAU dijabat oleh Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia.

 

Kekuatan TNI Angkatan Udara saat ini memiliki dua komando operasi yakni Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) diBandara Halim Perdanakusuma, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang markasnya di Makassar.

 

Sejarah lahirnya TNI Angkatan udara

Sejarah lahirnya TNI Angakatan udara bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945 untuk memperkuat Armada Udara yang saat itu kekurangan pesawat terbang dan juga fasilitas-fasilitas yang lainnya. Sejalan dengan perkembangannya berubah menjadi TKR atau  Tentara Keamanan Rakyat  pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan yang dibawahi oleh Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

 

TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI pada tanggal 23 Januari 1946, sebagai kelanjutan perkembangan tunas Angkatan Udara, pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan juga diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, saat ini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

 

Modal awal TNI AU yaitu pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Nishikoren, Cureng dan Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah adanya keputusan Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, TNI AU menerima aset Angkatan Udara Belanda meliputi hanggar, depo pemeliharaan, pesawat terbang dan depot logistik yang lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain B-25 Mitchell, C-47 Dakota, AT-6 Harvard, P-51 Mustang, Lockheed L-12 dan PBY-5 Catalina.

 

Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU mendapat pesawat tempur dari Uni Soviet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, MiG-19, MiG-21, pembom ringan Tupolev Tu-2, dan pemburu Lavochkin La-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.

 

TNI Angkatan Udara mengalami popularitas nasional tinggi dibawah dipimpin KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani pada awal 1960-an. TNI Angkatan Udara memperbarui armadanya di awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat A-4 Sky Hawk, OV-10 Bronco, F-16 Fighting Falcon, F-5 Tiger dan Hawk 100/200.

 

Salah satu Sejarah monumental yang diperingati jajaran TNI AU setiap tahun adalah apakah yang dinamakan Hari Bhakti TNI Angkatan Udara. Peringatan Hari Bhakti TNI Angkatan Udara, dilatar belakangi oleh dua peristiwa yang terjadi di dalam satu hari pada tanggal 29 Juli 1947. Pada pagi hari, 3 kadet penerbang TNI Angakatan Udara masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Sutarjo Sigit dan Kadet Suharnoko Harbani dengan menggunakan 2 pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan suatu pengeboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di 3 tempat, masing-masing di kota Semarang, Ambarawa dan Salatiga.

 

Peristiwa Kedua yaitu jatuhnya pesawat DAKOTA VT-CLA yang megakibatkan gugurnya 3 perintis TNI AU masing-masing Abdurahman Saleh, Adisutjipto dan Adisumarmo. Pesawat Dakota yang jatuh di Ngoto, selatan Yogyakarta itu, bukanlah pesawat milik militer, melainkan pesawat sipil yang disewa pemerintah Indonesia untuk membawa obat-obatan Palang Merah Malaya.

 

Penembakan dilakukan oleh 2 pesawat militer Belanda jenis Kittyhawk, yang merasa kesal akan pengeboman para kader TNI AU di pagi harinya. Untuk mengenang pengorbanan dan jasa-jasa ketiga perintis TNI AU tersebut, sejak Juli 2000, di tempat jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA (Ngoto) sudah dibangun monumen perjuangan TNI AU dan lokasi tersebut dibangun juga relief dan tugu tentang dua peristiwa yang melatar belakanginya. Di lokasi monumen dibangun juga makam Adisutjipto dan Abdurachman Saleh bersama dengan istri-istri mereka.

 

Pada tanggal 27 Oktober 1945, sehari menjelang peringatan 17 tahun Sumpah Pemuda, di lokasi Pangkalan Maguwo, Yogyakarta terlihat kesibukan. Nampak para teknisi berada di sekitar pesawat Cureng yang bertanda bulat Merah Putih sedang  mempersiapkan segala sesuatunya untuk penerbangan yang direncanakan. Mereka menginginkan pesawat Merah Putih terbang hari itu sebagai hari Sumpah Pemuda.

 

Komodor Udara Agustinus Adisutjipto atau  Pak Adi merupakan satu-satunya penerbang Indonesia yang berada di Pangkalan Maguwo. Di hari itu, Pak Adi terbang bersama Cureng Merah Putih. Upaya itupun membawa hasil. Pak Adi membawa Pesawat Cureng Merah Putih terbang berputar-putar di Angkasa Pangkalan Maguwo disaksikan oleh seluruh anggota pangkalan dengan rasa kagum yang berada dibawah. Itulah awal mula pesawat Indonesia bertanda Merah Putih terbang di angkasa Indonesia.

 

Tugas TNI Angkatan Udara

a. Dalam menjamin kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, TNI Angkatan Udara bertugas :

1) Melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan.

2) Menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.

3) Melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara.

4) Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

b. Pelaksanaan tugas diatas diwujudkan dalam kegiatan operasi militer untuk perang (OMP) dan operasi militer selain perang (OMSP) meliputi :

 

1) Operasi Militer untuk Perang terdiri atas : 

a) Operasi Pertahanan Udara, meliputi kegiatan Operasi Hanud Aktif dan Operasi Hanud Pasif.

b) Operasi Serangan Udara Strategis, meliputi kegiatan Operasi Pengamatan dan Pengintaian Udara Strategis, Operasi Penyerangan Udara dan Operasi Perlindungan Udara.    

c) Operasi Lawan Udara Ofensif, meliputi kegiatan Operasi Penyerangan dan Operasi Perlindungan Udara.   

d) Operasi Dukungan Udara, meliputi kegiatan Operasi Penyekatan Udara, Operasi Serangan Udara Langsung, Operasi Pengungsian Medis Udara, Operasi Angkutan Udara, Operasi Patroli Udara, Operasi Pengintaian Udara Taktis, Operasi Pengisian Bahan Bakar di Udara, Operasi Perlindungan Udara, Operasi SAR Tempur, Operasi Pengamanan Alutsista, Operasi Bantuan Tembakan Udara dan Operasi Khusus. 

e) Operasi Informasi, meliputi kegiatan Operasi Lawan Informasi Ofensif dan Operasi Lawan Informasi Defensif. 

 

2) Operasi Militer Selain Perang (OMSP) berupa Operasi Pertahanan Udara, Operasi Dukungan Udara dan Operasi Informasi, dalam rangka :    

a) Mengatasi gerakan separatis bersenjata.

b) Mengatasi pemberontakan bersenjata.

c) Mengatasi aksi terorisme.

d) Mengamankan wilayah perbatasan.

e) Mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis.

f) Melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.

g) Mendukung mengamankan Presiden dan Wakil Presiden RI beserta keluarganya.

h) Memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini dalam rangka sistem pertahanan semesta.

i) Membantu tugas pemerintahan di daerah.

j) Membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang.

k) Mendukung mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan asing yang sedang berada di Indonesia.

l) Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan.

m) Membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue).

n) Membantu pemerintah untuk pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan dan penyelundupan.

  

Visi TNI Angkatan Udara

Terwujudnya postur TNI AU yang professional, efektif, efisien, modern, dinamis dan handal dalam rangka menegakkan serta mempertahankan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Misi TNI Angkatan Udara

  • Mewujudkan kemampuan dan kekuatan sistem, persone1, materiil alut sista dan fasilitas untuk memenuhi postur TNI AU yang berkualitas agar siap untuk melaksanakan tugas dan fungsi.
  • Meningkatkan kemanpuan penyelenggaraan fungsi-fungsi intelijen dan pengamanan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi TNI AU.
  • Melaksanakan pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam rangka pelaksanaan tugas TNI AU baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
  • Melaksanakan kegiatan bantuan kemanusiaan dan bakti sosial dalam rangka membantu otoritas sipil untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi terwujudnya keamanan dalam negeri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  • Meningkatkan kerjasama militer dengan negara-negara sahabat dalam rangka menciptakan kondisi kemanan nasional, regional dan internasional serta untuk meningkatkan hubungan antar negara.
  • Melaksanakan penelitian dan pengembangan terhadap strategi dan sistem pertahanan, sumber daya manusia, serta kemampuan dan pendayagunaan industri strategis nasional untuk kepentingan pertahanan matra udara.
  • Meningkatkan pemberdayaan fungsi perencanaan, pengendalian dan pengawasan dilingkungan TNI AU melalui penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pernerintah.
     

Organisasi

TNI Angkatan Udara berada di bawah Markas Besar TNI. Perwira paling senior Angkatan Udara, Kepala Staf TNI Angkatan Udara merupakan perwira tinggi berbintang empat dengan pangkat Marsekal memimpin Angkatan Udara di bawah Panglima TNI. Mabes TNI Angakatan udara membawahi Komando Utama atau yang biasa disingkat dengan Kotama.

 

Komando Operasi Angkatan Udara I

Komando Operasi Angkatan Udara I mencakup wilayah Barat, markas komando di Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta. Kapala Staf Marsekal Pertama TNI Dedy Nitakomara, SE dan Panglima Koopsau I Marsekal Muda TNI Muhamad Syaugi, S.sos.

Koopsau I membawahi beberapa pangkalan udara.

 

Tipe A :

1.    Lanud Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta

2.    Lanud Atang Sendjaja (ATS), Bogor

3.    Lanud Roesmin Nurjadin (RSN),[6] Pekanbaru (akan naik status menjadi tipe A)[7]

4.    Lanud Supadio (SPO) , Pontianak (akan naik status menjadi tipe A)[8]

 

Tipe B :

1.    Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh

2.    Lanud Soewondo (SWO), Medan

3.    Lanud Husein Sastranegara (HSN), Bandung

4.    Lanud Suryadarma (SDM), Subang

 

Tipe C :

1.    Lanud Maimun Saleh (MUS), Sabang (akan naik status menjadi tipe B)

2.    Lanud Tanjung Pinang (TPI), Tanjung Pinang (akan naik status menjadi tipe B)

3.    Lanud Hang Nadim, Batam

4.    Lanud Ranai (RNI), Natuna (akan naik status menjadi tipe B)

5.    Lanud Padang (PDA), Padang

6.    Lanud Palembang (PLM), Palembang

7.    Lanud Astra Kestra (ATK), Lampung

8.    Lanud Haji Abdullah Sanusi Hanandjoeddin (TDN), Belitung

9.    Lanud Wiriadinata (TSM), Tasikmalaya

Tipe D :

1.    Lanud Sugiri Sukani (SKI), Cirebon

2.    Lanud Wirasaba (WSA), Purwokerto

3.    Lanud Singkawang II (SWII), Singkawang (akan naik status menjadi tipe C)

Rencana Pembangunan :

1.    Lanud Piobang (PBG) , Payakumbuh

2.    Lanud Gadut (GDT) , Bukittinggi


 

Komando Operasi Angkatan Udara II

Komando Operasi Angkatan Udara II mencakup wilayah timur, markas komando di Lanuma Hasanudin Makassar. Panglima Koopsau II Marsekal Muda TNI Agus Supriatna dan juga Kapala Staf Marsekal Pertama TNI Agus Dwi Putranto.

Koopsau II sendiri membawahi beberapa pangkalan udara.

 

Tipe A :

1.    Lanud Hasanuddin (HND), Makassar

2.    Lanud Iswahyudi (IWJ), Madiun

3.    Lanud Abdul Rachman Saleh (ABD), Malang

 

Tipe B :

1.    Lanud Surabaya (SBY), Surabaya (Akan naik status menjadi Tipe A)

2.    Lanud Balikpapan (BPP), Balikpapan

3.    Lanud Ngurah Rai (RAI), Denpasar

4.    Lanud Pattimura (PTM), Ambon

5.    Lanud Jayapura (JAP), Jayapura (Akan naik status menjadi Tipe A)

6.    Lanud Eltari (ELI), Kupang

7.    Lanud Manuhua (MNA), Biak

 

Tipe C :

1.    Lanud Iskandar (IKR), Pangkalan Bun

2.    Lanud Syamsuddin Noor (SAM), Banjarmasin

3.    Lanud Wolter Monginsidi (WMI), Kendari

4.    Lanud Sam Ratulangi (SRI), Manado (Akan naik status menjadi Tipe B)

5.    Lanud Rembiga (RBA), Mataram

6.    Lanud Merauke (MRE), Merauke (Akan naik status menjadi Tipe B)

7.    Lanud Tarakan (TAK), Tarakan

 

Tipe D :

1.    Lanud Leo Wattimena (MRT), Halmahera Utara (Akan naik status menjadi Tipe C)

2.    Lanud Dumatubun (DMN), Tual (Akan naik status menjadi Tipe C)

3.    Lanud Timika (TMK), Timika

 

Kohanudnas

KOHANUDNAS atau Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia bermarkas komando di Komplek Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta.

 

Korps Pasukan Khas

Pasukan khas adalah satuan tempur darat berkemampuan 3 matra, yaitu laut, udara darat. Prajurit Pasukan khas diharuskan minimal mempunyai kualifikasi para komando untuk dapat melaksanakan tugas secara professional lalu ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai spesialisasinya.

 

Tugas dan tanggung jawab Korpaskhas sama pasukan tempur yang lainnya yaitu sebagai satuan tempur negara, yang membedakan yakni dari semua fungsi pasukan khas sebagai pasukan pemukul NKRI yang siap untuk diterjunkan disegala medan baik kota, hutan, sungai, rawa,  laut untuk menumpas semua musuh yang melawan NKRI. Pasukan khas memiliki Ciri Khas tugas tambahan yang tak dimiliki oleh pasukan lain Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD) yakni  merebut dan mempertahankan pangkalan dan menyiapkan pendaratan pesawat dan penerjunan pasukan kawan.

 

Korpaskhas bertugas untuk membina kemampuan dan kekuatan satuan Paskhas sebagai pasukan matra udara untuk operasional dalam melaksanakan perebutan sasaran dan juga pertahanan obyek strategis Angkatan Udara, operasi khusus, pertahanan udara dan khas matra udara dalam operasi militer akan kebijakan Panglima TNI.

 

Koharmatau

Koharmatau atau Koharmatau Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara markas komando ada di Lanud Husein Satra Negara Bandung, membawahi :

1.    Depo 10 di Lanud Husein S, Bandung

2.    Depo 20 di Lanuma Iswahyudi, Madiun

3.    Depo 30 di Lanuma Abd Saleh, Malang

4.    Depo 40 di Lanud Sulaiman, Bandung

5.    Depo 50 di Lanud Adi Soemarmo, Surakarta

6.    Depo 60 di Lanud Iswahyudi, Madiun

7.    Depo 70 di Lanud Sulaiman, Bandung

 

Akademi Angkatan Udara

Akademi Angkatan Udara atau biasa disingkat (AAU) dengan Ksatrian berada di Yogyakarta, dipimpin oleh seorang Gubernur berpangkat Marsekal Muda dibantu seorang Wakil Gubernur berpangkat Marsekal Pertama.

 

Sebutan untuk taruna AAU disebut dengan Karbol, saat ini Karbol dibagi menjadi tiga jurusan yakni Elektronika, Aeronautik dan Teknik Manajemen Industri. Kedepan ditambah satu jurusan lagi yakni Paskhas. Setelah dilantik kesemua Karbol diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk menjadi seorang Penerbang. Pendidikan dilaksanakan selama 4 tahun dan setelah lulus dan juga dilantik menjadi Perwira, Karbol berhak untuk menyandang predikat sebagai Sarjana Pertahanan.

 

Penulis : Agung

Sumber : 

https://tni-au.mil.id/content/visi-dan-misi-tni-au

http://jihaddinastika.blogspot.co.id/2014/01/tni-au.html 

 




Related Article